Singkat kata thallophyta-tumbuhan tanpa
akar, batang, dan daun sejati-itu mampu mendongkrak kekebalan tubuh.
âJika daya tahan tubuh meningkat, mengurangi serangan penyakit. Bila
daya tahan tubuh rendah, sel darah putih tak mampu melawan penyebab
penyakit,â ujar dr Oetjoeng Handajanto.
BANYAK CARA
Selain bersifat preventif, spirulina pun
dapat digunakan sebagai terapi kuratif untuk mengatasi beragam
penyakit. Menurut Yana Maolana Syah MS PhD, peneliti bahan alam Institut
Teknologi Bandung, spirulina mempunyai komponen yang khas bernama
oligosakarida. âTernyata oligosakarida menjadi antivirus, antitumor,
dan mencegah penyebaran kanker,â ujar doktor Kimia alumnus University
of Western Australia itu.
Bagaimana spirulina mengatasi sel
kanker? Itu lantaran spirulina mampu menghasilkan faktor alfa seperti
disampaikan Ali Khomsan. Alfa zat kimia yang tokcer menggempur sel
tumor. Mekanisme lain, lantaran tumbuhan itu mengandung polisakarida
yang mampu memperbaiki sintesis kode gen deoxynucleutide acid (DNA).
Spirulina juga meningkatkan aktivitas enzim inti sel sehingga membuat
DNA dalam kondisi baik dan sehat.
Dokter Oetjoeng menuturkan pada kasus
kanker, spirulina berperan mengatrol pH darah. Harap mafhum, tingkat
keasaman darah penderita kanker amat rendah 5,7-6,5. Padahal, idealnya
pH darah 7,3. âBila pH darah turun terus, darah kehabisan oksigen dan
berakibat kematian,â ujar dokter berusia 55 tahun itu. Spirulina dapat
meningkatkan pH darah lantaran bersifat basa.
Sel kanker memang dipicu oleh makanan
yang bersifat asam seperti daging, telur, dan soda. Konsumsi berlebihan
makanan bersifat asam menyebabkan oksigenasi darah menurun. Akibatnya,
tubuh lemas, lesu, dan capai. Tubuh cuma memerlukan makanan asam 20%;
basa, 80%. Keistimewaan spirulina tak cuma itu.
Dalam khazanah pengobatan cina, hai zao
alias spirulina segar bersifat dingin dan asin. Bahan bersifat asin
berfungsi melunakkan atau menghancurkan. âOleh karena itu bagus
diberikan untuk penyakit yang mengalami pembengkakan atau benjolan di
tubuh, termasuk tumor dan kanker. Bengkak itu biasanya panas sehingga
diobati dengan bahan yang bersifat dingin,â ujar William Aditeja,
dokter alumnus Beijing University of Traditional Chinese Medicine.
Menurut Wahyu Suprapto, herbalis
sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dalam
pengobatan cina ada 2 gejala penyakit: yin dan yang. Jika seseorang
dalam kondisi yang diberi obat bersifat yang dan kondisi yin diberi obat
yin, justru makin sakit. âSpirulina itu mempunyai karakteristik yin,
jadi cocok untuk orang dengan gejala yang,â ujarnya. Penyakit dengan
gejala yang-cenderung ingin sesuatu yang dingin-contohnya diabetes.
Namun, ada pula kencing manis bertipe yin ditandai dengan kerap
berurine.
MAKANAN
Spirulina kini banyak dikonsumsi dalam
bentuk bubuk, cair, dan tablet. Itu hasil olahan beberapa spesies
spirulina yang telah diteliti khasiatnya oleh berbagai perusahaan.
Sekadar menyebut contoh PT Diamond Interest merilis merek Spirulina, PT
Elken Internasional Indonesia (Elken Spirulina), PT K-Link Indonesia
(Larutan Organik Spirulina), PT Luxor Inma (Spirulina Pasifica), PT
Pentamas Adhika Lestari (Spirumate), PT Surya Pagoda Mas (Revita), dan
PT Ultratrend Biotech (Spiruplus).
Hingga saat ini di Indonesia belum
terdapat pembudidayaan spirulina. Menurut Prof I Nyoman Kabinawa,
periset spirulina, perairan Indonesia-tawar, payau, dan laut-potensial
untuk pengembangan ganggang hijau-biru. Syaratnya antara lain pH 8,
5-11, bersih, dan bebas polusi. Lagi pula tumbuhan itu amat adaptif di
berbagai kondisi perairan.
Lokasi budidaya spirulina umumnya di
mancanegara seperti Amerika Serikat dan Cina. Hasil panen berupa
spirulina cair diolah dengan teknologi pengeringan beku untuk mencegah
oksidasi terhadap betakaroten dan asam lemak lain. Bahan bubuk itulah
yang diolah menjadi kapsul, serbuk, atau cairan spirulina. Produk mereka
itu kini merambah pasar dan menjadi harapan kesembuhan bagi para
pasien.
Memang banyak bukti empiris khasiat
spirulina mengatasi beragam penyakit. Meski begitu, produsen dan para
dokter tetap mengklaim spirulina bukan obat, tapi makanan fungsional.
âSpirulina memang tidak mengobati, tubuh memperbaiki diri sendiri,â
ujar dokter Oetjoeng. Ia menganalogikan montir bila gagal menemukan
onderdil, mobil tetap rusak dan tak dapat berjalan. Onderdil bagi tubuh
adalah makanan, spirulina âonderdilâ yang amat lengkap lantaran
memberikan semua yang dibutuhkan tubuh.
Namun, menurut dr Dadang Arief Primana
SpKO, SpGK konsumsi suplemen tak perlu bila makanan sehari-hari memenuhi
kategori gizi seimbang sesuai kebutuhan. âZat-zat yang terkandung
dalam spirulina sama dengan zat dalam makanan lain,â ujar dokter
spesialis gizi klinis itu. Pada umumnya masyarakat mengkonsumsi
spirulina ketika sakit mereka tak kunjung sembuh, meski berbagai
pengobatan ditempuh seperti dialami Anthony Fu yang 4 tahun mengidap
lupus. Sebulan setelah rutin mengkonsumsi spirulina, kadar hemoglobin
meningkat menjadi 13 gram per dl dari sebelumnya 7 gram per dl.
Ahli gizi seperti Prof Dr Ali Khomsan
menuturkan, suplemen tetap diperlukan untuk menopang kecukupan nutrisi.
Itu lantaran kadar nutrisi spirulina lengkap dan lebih tinggi ketimbang
makanan biasa. Contoh, protein spirulina 3 kali lebih tinggi daripada
daging sapi, kalsium 6 kali lebih tinggi ketimbang susu, dan zat besi
100 kali lebih tinggi daripada bayam. Kandungan senyawa aktif itulah
yang membantu mewujudkan harapan kesembuhan banyak pasien.
Sumber: Majalah Trubus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar